ARIMA



Data jumlah cacat rata-rata suatu produk
1.2
2
1.46
1.39
1.77
1.5
2.09
1.54
1.42
1.61
1.54
189
1.42
2.08
1.25
2.7
1.8
1.57
1.85
1.15
1.95
1.25
1.4
1.82
1.37
2.4
1.58
1.51
2.07
1.79
3.44
2.25
1.08
2.32
1.68
2.83
2.5
1.27
1.23
1.78
1.76
2.05
1.18
2.91
1.84
Tabel 1. Data jumlah cacat rata-rata suatu produk
Sumber Wei, William W,S 1990 Time Series Analysis Addison-Wesley Publishing Company
2. Plot time series
Gambar 1. Plot time series kecacatan produk sumbu x mewakili waktu dan y mewakili banyaknya produk cacat. 45 data di atas menunjukkan pola musiman karena tidak ada pola yang teratur.
3. Indentifikasi  model
Membuat ACF
Autocorrelation Function: kecacatan

Autocorrelation for kecacatan

Tabel. 2 Autocorrelation for kecacatan


Gambar 2. Grafik Autocorelation Function
Interpretasi ACF
Tabel 1 dan gambar 2 menunjukkan 11 lag. Dalam Minitab menampakkan lag sebanya n/4 untuk pengamatan (n)≤240. Dalam kasus ini 45/4=11,25 oleh karena itu Minitab menggambarkan 11 lag. Output di windows session menunjukkan pula nilai ACF, statistik T, dan Ljung-Box Q. Kemudian gambar di atas menampilkan uji hipotesis yang ditunjukkan dalam selang kepercayaan untuk α=0,05 dan tampak dalam output grafik dalam gambar 2.
Dalam kasus ini menggunakan α=5%. Pada tabel distribusi normal, dalam tabel distribusi normal kita ketahui nilai z yang hampir mendekati p=5% adalah 1.645. oleh karena itu nilai z yang digunakan sebagai patokan adalah statistik . Statistik T digunakan untuk uji hipotesis yang mendeteksi korelasi pada lag ke  (k adalah lag)
Hipotesis
-          Hipotesis awal adalah antara dengan  tidak ada korelasi ( )
-          Hipotesis alternatifnya adalah antara antara dengan  ada korelasi ( )
Interpretasi Analisis Autokorelasi
Tabel 1 menunjukkan nilai statistik Tsetelah lag 1 bernilai 2,88. Nilai melebihi . Grafik pada gambar 2 menunjukkan lokasi statistik T jatuh di daerah penolakan. Ini berarti pada lag 1 atau antara antara dengan  secara statisis ada korelasi ( ) cukup berarti. Selain lag 1, korelasinya secara statistik tidak berarti ( ).
Pada gambar 2 menunjukkan korelasinya pada lag 1 melewaati garis merah. Garis merah adalah selang kepercayaan yang merupakan garis batas signifikansi autokorelasi. Kemudian, output menunjukkan bahwa nilai-nilai outokorelasi membentuk pola yang turun eksponensial pada nilai autokorelasi positif. Pola seperti ini berarti dapat dijadikan petunjuk awal mendeteksi model time series.
Menghitung PACF
Partial Autocorrelation Function: kecacatan 




Tabel 2. Partial Autocorrelation for kecacat
 
Gambar 3. Grafik PACF
Interpretasi PACF
Sama seperti ACF pada gambar 3 menunjukkan bahwa setelah lag 1 PACF turun. Disaamping itu, pada lag 1, PACF tampak keluar dari selang kepercayaan. Jika ACF turun eksponensial dan PACF turun setelah lag 1, itu berarti ada indikasi modelnya adalah model autoregresive. Karena PACF turun pada lag 1 maka perkiranaan model autoregresive berorde 1 atau AR(1). Dari identifikasi di atas dapat diketahui perkiraan model time series adalah model ARIMA (1,0,0) atu AR(1).
Menaksir koefisien
ARIMA Model: kecacatan

Estimates at each iteration

Iteration      SSE   Parameters
0  11,2419  0,100  1,700
1  10,0858  0,250  1,393
2   9,5649  0,400  1,086
3   9,5316  0,436  1,006
4   9,5309  0,441  0,995
5   9,5309  0,442  0,993
6   9,5309  0,442  0,993

Relative change in each estimate less than 0,0010


Final Estimates of Parameters

Type         Coef  SE Coef      T      P
AR   1     0,4421   0,1365   3,24  0,002
Constant  0,99280  0,06999  14,19  0,000
Mean       1,7795   0,1254


Number of observations:  45
Residuals:    SS =  9,47811 (backforecasts excluded)
MS =  0,22042  DF = 43


Modified Box-Pierce (Ljung-Box) Chi-Square statistic

Lag            12     24     36  48
Chi-Square    4,9    8,9   30,9   *
DF             10     22     34   *
P-Value     0,899  0,994  0,620

Tabel 3. Model arima
Interpretasi  ARIMA
Gambar 3 menampilkan hasil iterasi (Estimates at each iteration) untuk menaksir sum square error (SSE) dan taksiran parameter model. Dalam hal ini ada dua parameter yaitu parameter konstanta dan parameter AR(1) berupa . Output menunjukkan 6 iterasi sehingga memperoleh SSE dan parameter model yang dapat meminimumkan model. Kemudian, hasil iterasi ditunjukkan kembali dalam tabel taksiran parameter model di bawaknya. Tabel taksiran parameter menunjukkan konstanta sebersa 0,9928, sedangkan parameter =0,4421. Bila melihat kembali iterasi di atasnya, kedua nilai sama dengan hasi iterasi keenamnya.
Uji statistik parameter-parameternya dilakukkan menggunakan statistik t atau nilai p-value. Apabila menggunakan statistik t, dibutuhkan tabel t atauz (apabila jumlah pengamatan ≥ 30). Namun apabila menggunakan p-value, bisa membuat kesimpulan tanpa harus melihat tabel p-value karena cukup membandingkan dengna level toleransi (α) yang akan digunakan dalam uji hipotesis.
Tahap awal menginterpretasikan output analisis time series adalah melihat parameter model yang telah dimodelkan yaitu AR(1) yang melibatkan konstanta di dalamnya. Jadi, ada 2 parameter dalam model. Secara umum, signifikasi konstanta tidak perlu diuji sehingga di sini yang diuji adalah autoregressive ( ).

Hipotesis
-          Hipotesis awal mengatakan bahwa parameter AR tidak cukup signifikan dalam model, sed
-          Hipotesis alternatif mengatakan bahwa parameter AR cukup signifikan dalam model.

Daerah Penolakan
 atau p-value

Interpretasi Hasil
Level toleransi ( yang digunakan adalah 5%. Berdasarkan tabel taksiran parameter, hasil pengolahan data yang ditunjukkan statistik T untuk parameter AR(1) atau  adalah 3.24 pada =5%, statistik z adalah 1,645. Bila statistik T dibandingkan dengan nilai z, maka nilai statistik T lebih beas. Nilai T sebbesar 3,24 menyebabkan p-value menjadi 0,02, berdasarkan informasi, maka dapat disimpulkan bahwa dalam AR(1), parameter  cukup signifikan. Jadi, persamaan modelnya adalah
Bahwa tabel taksiran parameter model menunjukkan besarnya mean square error (MSE) model sebesar 0,22 dan derajat bebas (df) model time series sebesar 43 (45-2,dimana 2 adalah banyaknya parameter dalam model). MSE merupakan suatu kriteria untuk memilih model semakin baik. Namun, kriteria tidak sensitif terhadap pertambahan parameter dalam model sehingga apabila digunakan sebagai kriteria terhadap jumlah parameter antara lain Akaike’s Information Criterion (AIC), Bayesian Information Criterion (BIC), Schwartz’s Bayesian Criterion (SBC), dan Parzen’s CAT.

Diagnosis Model


Modified Box-Pierce (Ljung-Box) Chi-Square statistic

Lag            12     24     36  48
Chi-Square    4,9    8,9   30,9   *
DF             10     22     34   *
P-Value     0,899  0,994  0,620   *

Tabel 4. Hasil uji Ljung-Box
Ljung-Box digunakan untuk mendeteksi adanya korelasi antar-residual. Dilakukan uji Ljung-Box karena dalam time series ada asumsi bahwa residual mengikuti proses white noise yang berartu harus independen (tidak korelasi) dan berdistribusi normal dengan rata-rata mendekati 0 ( ) dan standar deviasi ( ) tertentu.
Langkah-langkah mendeteksi adalanya white noise
1.      Uji Korelasi
Uji korelasi digunakan untuk mendeteksi independensi residual. Uji Indepenensi residual digunakan utnuk mendeteksi residual antar-lag. Dua lag dikatakan tidak korelasi apabila antar-lag tidak ada korelasi cukup berarti. Dalam time series, uji dilakukan dengan menggunakan statistik Ljung-Box-Piere.
Hipotesis
 (Ada korelasi antar-lag)
 Minimal ada 1 lag yang
2.      Uji Kenormalan Residual Model
Uji menggunakan statistik chi-square ( ). Daera penolakannya adalah:
Satistik Ljung-Box-Piere
0

Dimana df (derajat bebas) ditentukan oleh df=K-k. Dalam hal ini, K berarti pada lag K dank adalah jumlah parameter model. Daerah penolakan dalam bentuk grafk ditunjukkan gambar 6. Grafi menggambarkan derah penolakan =5% pada grafik statistik  untuk df=10.
Gambar 4. Daerah penolakan 5% untuk distribusi  pada df=10.
Interpretasi Output Diagnosis Model
Lag (K)
df(K-k)

p-value
12
24
36
10(12-2)
22(24-2)
34(36-2)
18,307
33,920
48,602
0,899
0,994
0,620
Tabel 5. Uji prosesLjung-Box-Pierce
Dari hasis di atas menunjukkan bahwa pada lag 12, kesimpulan yang bisa diambil adalah tidak ada korelasi antara residual pada lag t dengan residual pada lag 12 karena statistik Ljung-Box-Pierce tidak lebih dari statistik . Begitu pula untuk lag 24 dan 36, nilai statistik Ljung-Box-Pierce tidak melebihi  dan . Artinya, antara residual pada lag t dengan residual pada (sampai) lag 36, tidak ada yang saling berkorelasi. Dapat disimpulkan bahwa residual teleh memenuhi asumsi idependensi.
Gambar 5. ACF residual model AR(1)
ACF residual menunjukkan bahwa ada 1 lag yang keluar batas. Dapat disimpulkan bahwa residual model indenpenden.

Peramalan
Apabila hasil pemodelan telah signifikan dan memenuhi asumsi yang disyaratkan, berarti bisa diandalkan.  Model AR(1) untuk data pada tabel dapat dijadikan peramalan data ke depan.
 
Tabel 6. Hasil peramalan modelAR(1) untuk data tabel 1
Dalam tabel 1 sebanyak 45, sedangkan tabel 6 menunjukkan periode peramalan dilakukan mulai periode 40  sampai periode 50. Ini berarti peramalan dilakukan untuk  5 periode sebelumnya sebelum periode 45 dan 5 periode ke depan setelah periode 45.
Previous
Next Post »
Posting Komentar
Thanks for your comment